a.r.khadapi  Pada hari ini senin 13 mei 2013, untuk kedua kalinya Nusa Tenggara Barat melakukan proses demokrasi yaitu (pemilihan kepala daerah secara langsung). Sebagaimana yang tertuang dalam Undang-undang No.32 Tahun 2004. Tidak hanya untuk provinsi, namun juga di Ikuti oleh dua kabupaten kota yang ada di NTB yaitu Lombok Timur dan kota Bima.

Sebagai warga masyarakat yang menjadi bagian dari warga NTB dan Lotim, saya secara usia sudah memenuhi persyaratan untuk memberikan hak suara. tapi karena tidak memiliki surat panggilan dari KPU (Komisi Pemilihan Umum) untuk memilih , saya diperbolehkan untuk tetap memberikan hak pilih saya dengan syarat membawa KTP atau Kartu Keluarga.

Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang menjadi lokasi saya memilih adalah TPS kampung saya, No. TPS-nya saya sedikit kurang mengingat dan memperhatikannya tadi. Suasana TPS cukup kondusif sebagaimana yang saya lihat, terpotret juga lalu lalang masyarakat yang akan memberikan hak suaranya. Ada yang berkoar-koar untuk memilih salah satu pasangan calon, namun ada juga yang diam dan menjaga kerahasiaan pilihannya.

Bagi saya pribadi ini adalah kali kedua saya mendapatkan hak suara, tahun 2008 lalu saya juga mempunyai hak suara, dan telah memilih salah satu pasangan calon. Dari pantauan di lapangan, sesungguhnya ada beberapa tipe pemilih yang menjadi ciri masyarakat pemilih:

1. Ada yang sudah tahu siapa yang akan dipilih, dan sudah mempersiapkan diri untuk memilih dari rumahnya.

2. Ada yang tidak tahu siapa yang akan dia pilih, dan menentukan pilihannya ketika berada di TPS, kemudian melihat pilihan orang, selanjutnya berkonsultasi supaya dia memilih siapa yang lebih baik.

3. Ada yang sudah tahu siapa yang akan dipilh, namun enggan untuk memilih karena semua calon dianggap sama saja, dan membiarkan dirinya lebih baik tidak memilih.

4. Ada juga yang hanya tahu satu calon saja, namun atas nama rasa keadilan dia mencoblos semua calon yang tertera.

Dari beberapa tipe pemilih di atas, saya meyakini diri saya termasuk tipe pemilih dengan kategori yang tertera pada No.1 (satu). kategori yang demikian ini, biasanya merupakan kategori pemilih yang memilih berdasarkan atas  pengetahuan yang tinggi terhadap calon yang dipilih.

Pada saat penghitungan suara, ada banyak kejadian yang melanda masyarakat. pada umumnya pendukung masing-masing calon berkumpul di TPS kemudian menyaksikan bersama-sama proses penghitungan suara yang berlangsung. Mereka yang terkelompokpun berdasarkan calon yang didukug, saling bersorak-sorai ketika calon mereka di sebut namanya (SAH) pada saat penghitungan.

Ada juga anggota masyarakat yang memasang taruhan (menjadikan PEMILUKADA) sebagai ajang untuk berjudi, mereka memasang taruhan antara 50 ribu rupiah sampai 200 ribu rupiah untuk calon yang di andalkan.  Bahkan dari informasi yang lain ada juga yang lebih dari jumlah diatas.

Melihat Fenomena yang seperti ini, tentu Demokrasi (PEMILUKADA) telah mengajarkan kepada masyarakat menengah kebawah untuk secara tidak langsung melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang agama (Haram). hal ini menjadi precedent buruk bagi keberlanjutan dan pembangunan demokrasi dimasa yang akan datang.

Mengingat tingkatan demokrasi di Indonesia lebih khsus lagi di Nusa Tenggara Barat (NTB) secara kematangan masih menjadi perbincangan yang belum menemukan titik kedewasaan. ada 2 SLOGAN yang populer ketika PEMILU datang yaitu :

1. Ambil uangnya, jangan pilih orangnya

2. Serangan Fajar

Ambil uangnya, dan jangan pilih orangnya adalah sebuah slogan yang muncul ditengah masyarakat karena diakibatkan oleh prilaku calon yang suka membagi-bagikan uang supaya dipilih. Sedangkan Serangan Fajar, yaitu lebih merujuk kepada tingkah laku calon yang membagikan uang pada pagi hari subuh pada hari pemilihan kepada masyarakat, agar supaya masyarakat memilih orang/calon yang memberikan uang tersebut.

Dua macam slogan diatas merupakan bentuk money politic, yang dengan money politic ini mencerminkan kedewasaan demokrasi kita yang masih rendah, dan membentuk pola fikir masyarakat bahwa untuk memilih calon tertentu berani bayar berapa.

Kita berharap PEMILUKADA NTB tahun ini, menjadi mercusuar perubahan NTB di masa yang akan datang, yang lebih mensejahterakan rakyat, dan menjadikan demokrasi sebagai sarana mewujudkan masyarakat madani (civil sosiety).

by: Ahmad Rizal Khadapi